Bhabhi ko kapde sukhane le gayi, fir uski chudai ki, malai chhudane tak ka maza.
Ucap isteriku kalem.“Iya. Bokeb Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Tapi Abi kan manusia biasa. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Hati ini menjadi luruh. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Namun apa yang terjadi? Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”Sedang aku?
