Ibu mertua yang mesra melayani hasrat menantu dengan penuh gairah
Lalu entah bagaimana ceritanya aku sudah memeluknya.“An, jangan nangis, entar orang orang pada dengar” Bukannya mereda, tangisnya malah makin keras. “Ah, enggak, gue sama Remi.. Bokepindo toh cuma sebentar..” Tapi aku keburu pergi dan mengambilkan baju hangatku untuknya. Aku peluk dan angkat dia lalu kusenderkan ke dinding dekat meja rias. Usai sesi yang melelahkan sore itu, kami kembali ke kamar masing masing.Aku antar dia sampai pintu kamarnya dan janjian ngobrol lagi sambil makan malam.“Hmm..elo kok nggak bawa jaket Jen?” kataku ketika dia kulihat agak meringkuk kedinginan di meja makan. Masih jam besar 20.15.“Lain kali aja deh, gak enak kan ntar apa kata teman teman” kataku agak nervous tapi dalam hati aku berdoa, mudah mudahan dia tidak basa basi.
